KETUKAN DI TENGAH MALAM

Malam itu udara dingin membuat tubuhku menggigil. Segera aku sambar jaket biru dari kastop dikamarku. 

“Lumayan agak hangat sekarang” gumamku. Angin berhembus melalui jendela kamarku hingga membuat tirainya terkibas. Lalu terdengar suara berderik, ah.. rupanya engsel jendelanya sudaah berkarat. Aku harus menggantinya dengan yang baru setelah aku punya cukup uang. 

Segera kututup jendela itu rapat-rapat agar ruangan ini tak bertambah dingin. Kamarku menjadi gelap. Aku meraba-raba dinding mencari saklar lampu. Setelah lampu menyala aku melirik jam yang menempel di dinding dekat tempat tidurku. 

“Jam tujuh rupanya…” Gumamku.

Di pondok kecil dan sederhana inilah aku memulai hidup baru. Jauh dari kediktatoran Ayah yang selalu memaksaku berbuat yang dia mau. Tidak terkecuali dalam hal mengatur masa depanku. Masih terngiang-ngiang di telingaku bentakan Ayah saat itu.

“Anak bodoh! Buat apa cape-cape jadi kuli tinta segala?! Apa tidak ada pekerjaan lain yang lebih menguntungkan dan menjamin masa depan?! Coba pikir, berapa sih gaji seorang jurnalis?” 

Begitulah Ayah, segalanya diperhitungkan dengan uang. Sesaat terdiam, lelaki paruh baya itu masih berdiri dihadapanku. Meskipun aku menunduk tapi aku dapat membayangkan bagaimana murkanya pandangan Ayah padaku.

Tidak aku pungkiri bahwa selama ini Ayah memang sangat menyayangiku, Bang Rudi dan Mbak Riri. Setelah Ibu meninggal 15 tahun yang lalu, Ayah tidak pernah berniat mencari pengganti Ibu. Selama 15 tahun lamanya bertemankan kesepian, hidup dan membesarkan anak-anak seorang diri. Ayah mendidik kami dengan keras. Setiap hari membanting tulang mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan kami. Hingga Ayah berhasil menjadi pengusaha yang sukses.

“Kris, tatap mata Ayah.”

Perlahan-lahan aku menengadah memandangi wajah Ayah yang mulai menua.

“Apakah salah jika orang tua mengharapkan anaknya menjadi orang yang berpangkat? Orang yang bertitel? Jawab pertanyaan Ayah!” Suaranya meninggi.

“Tidak, Ayah.” 

“Lihat kakak-kakak mu, mereka berhasil karena menuruti kata-kata Ayah! Mereka patuh, tidak sepertimu yang susah diatur dan keras kepala!”

 Kakak? Mengapa aku selalu dibanding-bandingkan dengan mereka? Mereka memang hebat. Abangku, Rudi, adalah seorang kapten di kepolisian kini telah berumah tangga dan bahagia. Mbak Riri juga bersama suaminya mampu merengkuh kebahagiaan. Disamping istri yang baik, dia juga seorang dokter yang ternama. Kini giliranku yang harus menjadi seorang insinyur.

Semula aku turuti saja kemauan Ayah. Sebesar apapun keinginanku untuk menjadi seorang penulis, perintah Ayah saat itu mampu membuatku ketakutan mengungkapkan keinginanku. Hingga dua tahun berlalu, aku mampu memberi Ayah nilai-nilai terbaik hasil kuliahku di salah satu universitas ternama di Bandung.

Hingga suatu hari. Hari dimana keberanian yang dulu membeku kini meleleh karena suhu kejenuhan dan kemeranaan jiwa.

Dengan duduk terpekur, aku utarakan keinginanku. Aku katakan bahwa aku akan menghentikan sekolahku dan menekuni bidang jurnalistik. Ayah saat itu tentu saja kaget dan melarang dengan keras.

“Jangan! Awas saja kalau kamu berani melakukannya.” Ancamnya. Tetapi aku tak peduli dan nekat berhenti kuliah. Dua bulan aku tidak masuk kuliah, dua bulan pula Ayah membiarkanku. Hingga akhirnya kemarahannya memuncak.

Ketika aku sedang asyik mengetik sebuah artikel, Ayah menggebrak mejaku, membanting mesin tikku lalu menarik kerah bajuku dengan kasar dan menghempaskanku ke sofa.

“Keras kepala!” Hardiknya. 

“Ayo bilang, sampai mana kamu berani menentang keputusan Ayah?!” Ayah berdiri dihadapanku. Melotot. Aku terdiam tak bisa apa-apa.

“Dengar tidak omongan Ayah tadi?!” 

“Dengar, Ayah.” Ucapku lirih.

“Apa? Apa yang kamu dengar?!” Hardiknya lagi.

“A..aku harus patuh pada Ayah. Meniru keberhasilan Bang Rudi dan Mbak Riri dalam melaksanakan perintah A..Ayah” Terpatah-patah aku berucap.

“Itu kamu mengerti. Tapi kenapa kamu tidak juga pat-”

“Tapi, Ayah!” Potongku.

“Haruskah itu, Ayah? Yakinkah Ayah bahwa jalan hidup yang Ayah pilihkan untukku adalah yang terbaik untuk diriku sendiri? Tidak, Ayah! Ayah tidak bisa memkasakan keinginan Ayah padaku. Aku.. aku ingin menjadi seorang jurnalis!” Suaraku bergetar.

“Tapi kenapa, Krisna? Nilai-nilaimu selama kuliah bagus, menandakan kamu memang mampu menjadi insinyur. Apa lagi? Apa kamu tidak merasa bangga bila kelak menjadi seorang insinyur yang dihormati dan bisa hidup senang. Gunakanlah otakmu, Krisna!” Ucap Ayah.

“Ayah.. sejak kecil cita-citaku memang ingin menjadi jurnalis. Bukan insinyur. Ketika Ayah menyuruhku mengambil fakultas teknik, aku tidak bisa menolak. Aku takut mengecewakan Ayah, aku takut Ayah marah. Selama ini aku berjuang mendapatkan nilai bagus, agar Ayah tidak kecewa. Aku berusaha Ayah…” Aku menatap lurus mata Ayah.

“ Tapi keinginan itu terus menggangguku hingga aku berpikir apa salahnya jika aku menjadi jurnalis? Aku yakin, aku pasti bisa.” Ucapku mantap.

Ayah terdiam. Matanya menerawang. Sekilas wajahnya terlihat menyeramkan. Aku tahu, Ayah masih marah padaku. Aku tidak tahu apa keputusannya terhadapku.

“Baiklah Krisna, kalau itu mau mu.” Katanya dalam. “ Sekarang Ayah tidak peduli lagi. Lakukan yang kamu mau. Mau jadi orang kere, orang gembel, terserah!” 

“Mulai besok, aku tidak mau melihatmu ada di rumah ini. Segera kemasi barang-barangmu. Jangan kembali sebelum kamu menjadi orang sukses. Aku tidak mau dipanggil ayah oleh anak yang membangkan. Mengerti?!” Ayah berkata penuh penekanan.

Rasa nyeri menyusup kedadaku.Makin parah hingga hampir menjatuhkan air mataku. Tapi, tak ada yang bisa aku lakukan. Aku harus menerimanya dengan lapang dada.

Gonggongan anjing dari kejauhan menyentakkan aku dari lamunan. Ternyata malam kian larut. Jam telah menunjukkan pukul delapan kurang lima menit. Kantuk mulai menyerang. Biarlah kepenatanku hari ini, kegaulauanku selama ini menjadi teman tidurku malam ini.

Sayup-sayup kudengar pintu diketuk orang. Rasa-rasanya suara itu datang dari arah pintu diketuk. Ketukannya pelan namun beraturan. Bergegas aku bangkit dari bangkit.

“Siapa?” Tanyaku kesal namun tak ada jawabannya. Ketukan semakin jelas terdengar.

Tok..tok..tok..

Pintu terus diketuk sampai aku membukanya. Aku menyembulkan kepalaku untuk melihat siapa yang ada di balik pintu.

“I..Ibu?!” Mataku membulat, tak percaya dengan apa yang aku lihat. Sesosok wanita paruh baya berdiri anggun dihadapanku.

“Ibu…” Panggiku. Wanita itu tersenyum. Dengan kebaya putih dan rambutnya yang disanggul rapih. Persis seperti lukisan di ruang tengah rumah Ayah. Yang setiap kali aku lewat, ingin rasanya aku berlama-lama disana memandangi lukisan Ibu. Begitu dalam rindu yang kupendam pada sosok yang telah melahirkanku ini.

“Ibu…” Panggilku untuk ketiga kalinya. Mataku sudah tak sanggup menahan air mata. Buliran bening itu jatuh membasahi pipi. 

“Iya nak. Ini Ibu. Boleh Ibu masuk?”

“Silahkan Ibu, telah lama aku menanti kedatangan Ibu…” 

Pintu kututup kembali. Aku memandang lamat-lamat wajah Ibu yang cantik dengan senyum lembutnya.

“Aku sangat, sangat merindukan Ibu.”

“Ibu juga, Krisna anakku.”

Segera kupeluk wanita itu, kucium tangannya, pipinya, keningnya. Wanita itu membalas mengecup kening anak bungsunya dan membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.

“Anak Ibu sudah besar ya!” Ibu tertawa kecil. Dengan sesenggukan aku ikut tersenyum.

“Sudahlah nak, jangan kau tumpahkan semua air matamu. Lelaki pantang menitikan air mata kan? Seberat apapun beban derita yang harus dipikulnya.”

Aku melepaskan pelukannya. “Iya bu, maafkan aku. Perasaanku sedang campur aduk.” Keluh ku.

“Mau cerita sama Ibu, nak?” Ibu pun duduk di sofa ruang tamu. Aku ikut duduk di sebelahnya dan merebahkan kepalaku di pangkuan Ibu.

“Ini tentang Ayah. Ia tak pernah mau mengerti aku.”

“Sabarlah nak, memang begitu sifat Ayahmu sejak dulu. Apalagi sekarang dia hidup sebagai single parent. Maksud Ayahmu baik, anakku. Tapi karena rasa takut yang berlebihan terhadap masa depanmu, maka sikapnya jadi begitu, Sekarang kamu sudah besar, Krisna. Sudah dapat menentukan mana yang terbaik bagi hidupmu. Lanjutkan yang sedang kamu perjuangkan, nak. Ibu hanya bisa berdoa untuk kebahagiaanmu saja. Biarlah sementara waktu keadaan  Ayahmu dan kamu begini. Cepat atau lambat, hati Ayah mu akan mencair juga. Bila suatu saat kamu kembali dengan atau tanpa keberhasilan itu, percayalah dia akan memelukmu dengan rasa sayang, rasa bangga, menyambutmu pulang.” Tutur Ibu begitu bijak.

 Aku bangkit dan mengajak Ibu berdiri. “Maukah Ibu tinggal bersamaku disini?” Pintaku.

“Walaupun Ibu ingin, Ibu tidak bisa” Ibu menggeleng.

“Kita tidak mungkin bisa bersama lagi. Karena dunia kita berbeda. Ibu telah lama pergi, Krisna. Ibu harus kembali keatas sana, karena sebentar lagi matahari akan muncul dan ayam akan berkokok. Selamat tinggal, Krisna anakku tersayang, Ibu bahagia dapat bertemu dan memelukmu, merasakan kehangatanmu lagi” Wanita itu mundur beberapa langkah. Masih dengan senyuman yang sangat aku rindukan, sedikit demi sedikit wujud Ibu berubah menjadi cahaya putih yang berpijar lembut. Kian lama cahaya itu semakin menyilaukan mataku.

“Tidak Ibu! Jangan… jangan pergi Ibu! Jangan tinggalkan aku!” Sekeras-kerasnya aku berteriak, sederas apapun air mataku berlinang, Ibu hanya tersenyum perlahan tertutupi cahaya. Aku ingin menggapai Ibu agar kembali. Mataku menyipit memandang kebalik cahaya. Sinar itu seketika melejit terbang ke angkasa. 

“IBUUUUU…!!” 

“Ibu… Ibu.. Hiks… Ibu, jangan tinggalkan aku..” 

Tiba-tiba aku mendapati diriku dalam keadaan menangis meronta-ronta diatas temat tidur. Semua kejadian tadi hanya mimpi. Mimpi paling hangat dan mimpi yang akan selalu kurindukan dalam hidupku. Karena hanya di mimpi itulah aku dapat merasakan kembali kehangatan pelukan Ibu. 

Terimakasih Tuhan… 

Pagi ini aku punya semangat baru, semangat yang akan menghantarkanku menuju cita-citaku.

Semoga…

Published by Dewi Andrianie

I am a teacher. I like reading and writing simple thing. I love disscusing about education, history, science, traveling, art

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started